MAHASISWA, ESENSI SERTA EKSISTENSINYA DALAM KACAMATA FILSAFAT



          Mahasiswa yang dewasa ini diidentikkan dengan sebuah gaya hidup akademik dan ber-label sebagai seseorang yang akan menjadi sosok agent of change, iron stock, social control, dan lain hal sebagainya yang terkesan bertolak belakang dengan realita mahasiwa umumnya pada saat ini. Memang kita tidak bias memukul rata bahwa setiap mahasiswa haruslah idealis, menjadi sosok yang netral dalam artian tidak memiliki keberpihakan dalam sudut pandang politik Negara dan lain sebagainya yang berbau politik juga pemerintahan tidak pula pada rakyat dalam artian tidak menggambil sikap seolah olah rakyat lah yang harus dibela dan pemerintah lah yang selalu salah. Secara gamblang dapat tuliskan bahwa mahasiswa pada era melenial ini tidaklah mencerminkan esensi serta eksistensi mahasiswa yang sebenar benarnya mahasiswa.

Lalu bagaimana sosok seorang mahasiwa yang sebenar-benarnya mahasiwa ?



Bagian dibawah ini akan mencoba menjelaskan eksistensi serta esensi mahasiswa jika dilihat dalam sudut pandang filsafat.

1.      Ontologi Mahasiswa (Hakikat dan Definisi)
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Apa itu mahasiswa atau Ontologi mahasiswa, berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai apa Ontologi itu sendiri. 
Ontologi adalah tubuh atau bagian yang paling umum dari filsafat. Kata Ontologi berasal dari kata “Ontos” yang berarti “berada (yang ada)”. Menurut istilah, Ontologi adalah ilmu hakekat yang menyelidiki alam nyata ini dan bagaimana keadaan yang sebenarnya. Dapat dikatakan bahwa ontologi merupakan suatu sudut pandang filsafat yang mengupas habis kulit luar suatu hal yang dicerminkan dengan konsep ke-ada-an atau hakitat hal tersebut.

Mahasiswa, secara bahasa menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) adalah orang yang belajar di perguruan tinggi menurut Knopfemacher [dalam Suwono, 1978] Mahasiswa merupakan insan-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi, dididik & di harapkan menjadi calon – calon intelektual. Seseorang dapat dikatakan ada sebagai mahasiswa jika : 
1.      Menjalani proses studi di sebuah perguruan tinggi.
2.      Menerapkan dan mencerminkan Tridarma Perguruan tinggi, yang antara lain terdiri dari:
a.      Pendidikan dan Pengajaran
b.      Penelitian dan Pengembangan
c.      Pengabdian kepadaMasyarakat
Lalu apakah seseorang yang tidak termasuk dalam dua kriteria tersebut termasuk seorang mahasiswa ?
Secara Ontologi banyak sudut pandang yang dapat dibangun untuk menentukan hakikat suatu hal. Berikut ini akan dijabarkan beberapa hasil sudut pandang yang dibangun untuk menetapkan ke-hakihatan seorang mahasiswa.

1.      Materialisme
Aliran ini mempunyai anggapan bahwa sumber yang asal adalah materi, bukanlah rohaniah. Aliran ini dikenal juga sebagai naturalism.
Bedasarkan sudut pandang ini, dapat dilihat bahwasanya penilaian hakikat bahwa seseorang dapat sikatakan sebagai mahasiswa dilihat dari objek materi atau fisik. Mungkin seseorang dapat dikatakan sevagai mahasiswa apabila ia menerapkan norma serta nilai dn aturan berpenampilan yang diterapkan di wilayah studi atau perguruan tinggi tempat ia menjalankan studi.

Lalu, bagaimana jika ada seorang yang menyatakan dirinya sebagai seorang mahasiswa namun ia tidak mencerminkan hal tersebut?

2.      Idealisme
Lawan materialisme ini dikenal juga sebagai aliran spiritualisme. Idealisme berpegang teguh pada serba cita, ide atau pemikiran, sedangkan spiritualisme berpegang pada serba ruh. Materi bagi penganut aliran ini tidaklah nyata.
Dalam perfektif ini mahasiswa dapat dikatakan sebagai seorang yang mengimani Tridarma perguruan tinggi dan memiliki pemikiran idealis layaknya seorang mahasiswa.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang menyebut dirinya seorang mahasiswa namun bersifat apatis, hedonis, tidak peka social, naif dan menjunjung tinggi nilai akademik dari pada pemikiran idealis ?

-maap OTW kelar

Komentar