Sedikit Hal Mengenai Mahasiswa dan Revolusi Industri 4.0
Revolusi industri 4.0 merupakan
sesuatu digaung-gaungkan dan diangkat diberbagai forum akademik terutama di
wilayah universitas. Entah dengan tingkat kesadaran yang seperti apa, hal
tersebut seakan menjadi momok dan sekaligus menjadi sebuah bahan tepuk tangan
untuk menggambarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Seperti
yang kita semua ketahui bahwa suatu hal entah itu benda, kejadian ataupun
peristiwa dapat memiliki dua buah sisi layaknya sebuah uang koin. Tentu dapat
dipandang secara positif dan pula dapat dipandang negatif. Semua ditafsirkan
menurut konteks lapangan atau wilayah praksis.
Mungkin kita semua sudah tahu dan
bahkan paham dengan hal positif yang dapat kita lihat saat berbicara mengenai
revolusi industri 4.0. Namun layaknya obat, revolusi industri 4.0 pun memiliki
efek samping yang bisa dibilang cukup buruk dalam beberapa hal. Dan kali ini
kita bataskan pembahasan tersebut dalam wilayah mahasiswa saja.
Semakin modern atau majunya sebuah
zaman pastilah memberi banyak kemudahan dalam berbagai bidang. Namun hal
tersebut lah yang juga menjadi sebuah momok yang menakutkan untuk mahasiswa
mahasiswa yang tidak dapat membatasi arus yang mengenainya hingga terbawa tanpa
tau jeram seperti apa yang akan ia datangi. Segala kemudahan yang terjadi saat
ini menambah kepragmatisan mahasiswa dalam berbagai lingkup. Banyak yang tak
lagi pergi keperpustakaan untuk mencari referensi tugas atau sekedar membaca
buku. Semua sudah dapat terpenuhi di dalam sebuah lempengan bertombol yang muat
dalam genggaman dan dapat dibawa kemana mana. Hal tersebut mereduksi sebuah
makna proses dalam berilmu.
Bukan buku dan lempengan tadi yang
dipermasalahkan, tapi apa yang didapatkan dari lempengan tersebut. Orang orang
akan dengan mudahnya mendapat referensi dari artikel artikel bebas yang bahkan
mereka sendiri tak tau siapa yang membuat dan bidang ilmu seperti apa yang
digeluti sang pembuat artikel. Tak sedikit artikel artikel bebas yang dimuat disusun
tanpa sebuah referensi yang jelas dan hanya berpegang pada opini mentah sang
penulis tanpa sebuah kutipan atau otoritas ilmiah yang jelas. Padalah banyak
hal buruk yang kiranya memiliki peluang jika kebiasaan seperti ini terus
terjadi, mulai dari kesalahan perspektif, penyebaran hoax, pengatas namaan
tokoh, hingga penyebaran isu isu yang dapat membolak balikan pandangan
seseorang mengenai suatu hal dan lain sebagainya. Tentu banyak jika ingin
dibeberkan satu persatu.
Selain tereduksinya makna dalam
proses kognisi, dewasa ini istilah zoon
politicon atau mahluk sosial yang ungkapkan oleh Aristoteles juga tidak
lagi menggambarkan interaksi antar manusia. Banyak yang lebih memilih
berinteraksi dengan lempengan bertombol dibanding mengobrol dan bersosialisasi
dengan orang disekitarnya, diskusi tak lagi menjadi sebuah hal yang
menyenangkan dan menggairahkan. Karena lebih menyenangkan untuk terfokus pada
layar berwarna dengan sebuah interaksi maya yang ada didalamnya. Tak hanya itu,
fungsi mulut pun tergantikan dengan jempol dan tombol-tombol serta sebongkah
daging berakal di hadapannya pun tak lebih penting dibandingkan layar berwarna
yang tergenggam dan dihadapkan kedepan wajahnya. Mungkin kita membutuhkan
sebuah istilah baru untuk menggambarkan proses interaksi yang terjadi saat ini.

Komentar
Posting Komentar